Aku penat sekali dan perlu refreshing, pas pada waktunya seorang teman mengajak ke Gramedia.Aku pergi bertiga selepas hujan berhenti mengguyur desa paingan tercinta. Pikirku, baguslah melihat-lihat buku dapat menambah suatu inspirasi yang baru, tetapi bila kuingat-ingat banyak buku dikos tetapi belum tersentuh atau terbaca, malah udah ada yang hilang tanpa terbaca. Kebiasaanku pada masa lalu adalah teliti memilih dan membeli buku tetapi tidak membacanya, jadi sebenarnya aku sedang menyumbang toko buku atau lebih tepatnya menghamburkan uang – menghianati kepercayaan orang tua. Anyway, the past has gone. Aku tidak memikirkan apapun tentang masa lalu – jadi lupakan masalah buku yang hilang atau apapun.
Akhirnya kutemukan buku yang telah lama aku ingin lihat, the Art of War karya Sun Tzu. Salah seorang pejabat tinggi PMA, pernah memberikan gambaran tentang bagusnya buku theArt of War – jadi aku sangat tertarik untuk membacanya. Bukunya tebal dan warnanya merah, sangat menarik bukan?! Begini menariknya, setiap buku laris bertuliskan logo best seller dan tertulis sudah terjual beberapa juta kopi dalam waktu singkat. Lain dari hari sebelumnya, aku tidak simpati pada buku manapun, dan kupastikan itu bukan hanya perasaanku, aku benar-benar tidak tertarik. Aku mungkin akan membacanya ketika aku sudah resmi bekerja, itu saja pikirku.
Lalu mengapa aku tidak tertarik pada buku manapun juga, yang dulunya aku kepingin baca semua buku terlaris yang dibaca jutaan orang didunia ? Jawabannya adalah aku sudah punya Alkitab dan aku penasaran mengapa hatiku begitu percaya pada Alkitab, entah mengapa. Aku orang yang sangat sulit percaya, tetapi aku yakin benar bahwa Alkitab adalah satu-satunya jawaban paling tepat untuk mengembangkan pikiran. Kalau ada buku yang lain, itu hanya tambahan saja. Hal itu juga diteguhkan 2 bulan lalu aku membaca buku karangan Zig-Ziglaryang sangat kuidolakan,diakhir buku Ziglar menyerahkan semuanya pada Tuhan Yesus. Tulisan Ziglar amat sangatmenginspirasi untukku, padahal aku tipe orang amat sangat pilih-pilih, ya tapi karena keadaan mendesak aku jadi tipe orang apa adanya, hahaha dan itu lebih sering terjadi.Ziglar dapat menguraikan secara bagus dan membuat tulisan yang menarik hatiku, sehingga aku sering melupakan segala sesuatu bila memegang bukunya. Pantaslah bagi seorang guru International Motivator bisa memotivasi hati. Pikirku pantas sekali seorang pembicara top beberapa generasi di Amerika ini memiliki karya yang menakjubkan.
Bila diteliti secara seksama – Ziglar menuliskan Alkitab dengan bahasa sehari – hari sehingga bisa dinikmati semua kalangan semua golongan. Ziglar hanya manusia biasa yang mengambil kalimat Alkitab. Seorang yang mau menuliskan kembali Alkitab, tentunya ia sudah harus menguasai Alkitab, itulah yang terjadi pada Ziglar. Ada bagian dari diriku menginginkan menjadi pribadi seperti Ziglar, menjadi motivator CEO dunia, bisnisman, atau motivator siapapun.untuk bisa mencapainya ternyata aku harus percaya, menguasai dan menerapkan apa yang tertulis pada Alkitab. Alkitab menjadi bacaan wajib, dan tidak heran dari Alkitab, banyak orang biasa menjadi penulis besar dinegerinya bahkan didunia...
Impossible is Nothing With Jesus Or Nothing is Impossible With Jesus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar