Selasa, 21 Oktober 2008

Hari 4 : Diciptakan untuk Kekekalan

Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka
Pengkotbah 3:11

Tentu Allah tidak akan menciptakan makhluk seperti manusia hanya untuk hidup sehari! Tidak, tidak, manusia diciptakan untuk kekekalan
Abraham Lincoln

Kehidupan ini bukan hanya yang ada sekarang.
Kehidupan di bumi hanyalah gladi bersih sebelum pelaksanaan yang sesungguhnya. Kita akan menghabiskan jauh lebih banyak waktu disisi lain dari sesudah kematian, yaitu di dalam kekekalan, daripada waktu dibumi ini. Bumi adalah daerah persiapan, pra sekolah, uji coba bagi kehidupan kita di kekekalan. Inilah masa latihan sebelum permainan yang sesungguhnya; putaran pemanasan sebelum pertandingan dimulai. Kehidupan ini adalah persiapan untuk menghadapi kehidupan berikutnya.

Kita bisa hidup paling tinggi seratus tahun di bumi, tetapi kita akan hidup selamanya di kekekalan.

Alkitab berkata : Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. kita memiliki suatu naluri bawaan yang merindukan kekekalan. Ini karena Allah merancang kita, menurut gambarNya, untuk hidup kekal. Sekalipun kita tahu bahwa semua orang akhirnya meninggal, kematian selalu terasa tidak wajar dan tidak adil. Alasannya mengapa kita merasa bahwa seharusnya kita hidup selamanya adalah karena Allah melengkapi otak kita dengan keinginan tersebut.

Suatu hari jantung kita akan berhenti berdetak. Ini akan merupakan akhir tubuh kita dan waktu kita dibumi, tetapi tidak akan merupakan akhir dari diri kita. Tubuh duniawi kita hanyalah kediaman sementara bagi roh kita. Alkitab menyebut tubuh duniawi sutu kemah tetapi menunjuk pada tubuh masa depan kita sebagai sebuah rumah. Alkitab berkata : Jika kemah tempat kediaman kita di bumi dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.

Sementara kehidupan menawarkan banyak pilihan, kehidupan kekal hanya menawarkan dua pilihan surga atau neraka. Hubungan kita dengan Allah di bumi akan menentukan hubungan kita denganNya di dalam kekekalan. Jika kita belajar untuk mengasihi dan mempercayai anak Allah, Yesus, kita akan diundang untuk menghabiskan kekekalan kita bersama Dia. Sebaliknya, jika kita menolak kasih, pengampunan, dan keselamatanNya, kita akan menghabiskan kekekalan kita terpisah dari Allah.

Apabila kita memahami sepenuhnya bahwa kehidupan ini bukan sekedar yang ada sekarang, dan kita memahami bahwa kehidupan hanyalah persiapan untuk menghadapi kekekalan, kita akan mulai hidup dengan berbeda.

kita akan mulai hidup dalam terang kekekalan, dan itu akan mewarnai cara kita menangani semua hubungan, tugas, dan keadaan. Tiba-tiba banyak kegiatan, sasaran dan bahkan masalah yang tampak begitu penting akan kelihatan tidak penting, kecil dan tidak layak mendapat perhatian kita. Semakin dekat kita hidup dengan Allah, semakin kecil kelihatannya segala sesuatu yang lain.

ketika kita hidup dengan mempertimbangkan kekekalan, nilai-nilai kita berubah. kita menggunakan waktu dan uang kita secara lebih bijak (ehm jadi wanita bijak? kunjungi www.wanitabijak.com, atau pria sejati : www.priasejati.co.id). kita menghargai lebih tinggi pada hubungan dan karakter daripada kepopuleran atau kekayaan atau prestasi atau bahkan kesenangan. Prioritas-prioritas kita ditata ulang. Soal mengikuti trend, model pakaian, dan nilai-nilai populer tidaklah penting lage. Paulus berkata : aku pernah menganggap semua hal ini sangat penting, tetapi sekarang aku menganggap semua itu tidak berharga karena apa yang telah Kristus lakukan.

Jika waktu kita di dunia saja yang merupakan kehidupan kita, saya akan menganjurkan agar Anda segera menikmati hidup Anda sepuas-puasnya. Kita bisa mengabaikan soal bersikap baik dan etis, dan kita tidak perlu khawatir tentang segala akibat dari tindakan kita. kita bisa memperturutkan keinginan hati untuk hidup dengan mementingkan diri secara mutlak karena tindakan-tindakan kita tidak akan memiliki akibat jangka panjang. Tetapi, dan inilah yang mempengaruhi keadaan, kematian bukanlah akhir dari diri kita, tetapi merupakan perpindahan kita menuju kekekalan, karena itu ada akibat-akibat kekal untuk segala sesuatu yang kita lakukan di dunia. Setiap tindakan dalam hidup kita memberi pengaruh untuk kehidupan kita dalam kekekalan.

Aspek yang paling merusak dari kehidupan jaman sekarang adalah cara berpikir untuk jangka pendek. Untuk memanfaatkan kehidupan kita sebaik mungkin, kita harus memelihara visi kekekalan terus menerus di dalam benak kita dan nilai kekekalan itu dihati kita. Kehidupan sama sekali bukan hanya yang dijalani sekarang! Sekarang ini adalah puncak yang kelihatan dari gunung es. Kekekalan adalah semua sisa gunung es yang tidak kita lihat di bawah permukaan.

Seperti apakah keadaannya kelak di dalam kekekalan bersama Allah? terus terang kemampuan otak kita tidak bisa menghadapi keajaiban dan kehebatan surga. Itu sama seperti mencoba menggambarkan internet kepada seekor semut. tidak ada gunanya. Belum ditemukan kata-kata yang mungkin bisa menyampaikan pengalaman kekekalan. Allah berkata : tidak seorang manusiapun pernah melihat, mendengar, ataupun membayangkan hal-hal indah yang disediakan Allah bagi orang yang mengasihi Dia.

Suatu hari Yesus akan berkata : Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

Seluruh kehidupan kita didunia merupakan sampul dan halaman judul, ketika kita meninggalkan dunia kita memulai Pasal Satu dari Kisah Besar, yang tidak seorang pun di bumi ini pernah membacanya, yang berlangsung untuk selamanya dan yang setiap babnya lebih baik dari bab sebelumnya... WOW!!! (yang satu ini dahsyat banget loh.. lebih dahsyat dari The Lord of The Ring, pernah nonton perangnya???)

Allah memiliki suatu tujuan bagi kehidupan kita di dunia, tetapi itu tidak berakhir di sini. RencanaNya mencakup lebih banyak daripada beberapa dekade yang akan habiskan di planet ini. Itu bukan sekedar "kesempatan seumur hidup". Allah memberi tau kita suatu kesempatan yang melebihi umur hidup kita. Alkitab berkata : Rencana Tuhan tetap selama-lamanya, tujuan-tujuanNya kekal.

Satu-satunya waktu di mana sebagian besar orang berpikir tentang kekekalan adalah pada saat pemakaman, dan waktu itu pemikiran tersebut sering hanya bersifat dangkal, dan sentimental, yang didasarkan pada ketidaktahuan. Kita mungkin merasa tidak wajar kalau orang memikirkan kematian, tetapi sebenarnya tidak sehat kalau orang hidup dengan menolak kematian dan tidak memikirkan hal yang tidak mungkin dielakkan. Hanya orang bodoh yang menjalani kehidupan ini tanpa bersiap-siap menghadapi apa yang kita semua tahu akan terjadi akhirnya. Kita perlu berpikir lebih banyak tentang kekekalan, jangan lebih sedikit.

Sama seperti kesembilan bulan yang kita habiskan di dalam rahim ibu kita bukanlah suatu akhir tetapi persiapan untuk menghadapi kehidupan, demikian juga kehidupan ini merupakan persiapan untuk menghadapi kehidupan berikutnya. Jika kita memiliki suatu hubungan dengan Allah Bapa (YHWH) melalui Yesus (Yahushua haMasiach), kita perlu takut akan kematian. Itulah pintu menuju kekekalan. Kematian akan menjadi jam terakhir dari waktu kita di bumi. Kehidupan kita, kematian justru merupakan hari kelahiran kita ke dalam kehidupan kekal. Alkitab berkata : sebab dunia ini bukanlah tempat tinggal kita, dengan penuh pengharapan kita menantikan tempat tinggal kita yang kekal di surga.

dibandingkan kekekalan, waktu kita dibumi hanyalah sekejap mata, tetapi akibatnya akan kekal. Perbuatan-perbuatan dalam kehidupan ini menentukan nasib dalam kehidupan berikutnya.

dan seharusnya setiap hari kita bersiap-siap untuk menghadapi hari terakhir kita... do and give the best!!!

diambil dan diedit dari Rick Warren

Tidak ada komentar: